GEMPA di Kutai Timur dirasakan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim), Minggu (16/8/2026) dini hari. Gempa berkekuatan magnitudo 6,2 itu berpusat di Sulawesi Tengah dan terjadi sekitar pukul 00.25 Wita.
Getaran dirasakan di Sangatta, Kecamatan Bengalon hingga wilayah Kaliorang. Guncangan berlangsung beberapa detik dan sempat membuat sebagian warga panik hingga memilih keluar rumah.
Bagi warga yang merasakan guncangan pada dini hari, situasi tersebut berlangsung singkat tetapi cukup membuat perhatian tertuju pada kondisi rumah dan lingkungan. Setelah getaran berhenti, warga perlu memastikan keadaan sekitar sebelum mengambil langkah berikutnya.
BPBD Kutim memilih menekankan ketenangan dan ketepatan informasi. Pesan itu penting karena kabar mengenai bencana dapat cepat menyebar, sementara kondisi lapangan perlu dipastikan melalui sumber yang memiliki kewenangan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim Sulastin meminta masyarakat tidak panik dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi.
“Jangan panik. Artinya percaya bahwa informasi itu yang berdasarkan dari otoritas BMKG dan BPBD Kutai Timur setempat,” ujar Sulastin, Minggu (16/8/2026).
Pusat gempa berada sekitar 74 kilometer barat daya Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Meski sumber gempa berada di luar wilayah Kutim, getarannya dirasakan warga di beberapa kawasan kabupaten tersebut.
Di Sangatta, Bengalon, dan Kaliorang, warga merasakan getaran selama beberapa detik. Sebagian warga yang terkejut memilih keluar rumah untuk memastikan kondisi di sekitarnya.
Situasi tersebut membuat informasi resmi menjadi penting, terutama pada menit-menit awal setelah guncangan terjadi. BPBD Kutim meminta masyarakat menjadikan informasi dari otoritas berwenang sebagai rujukan.
Sulastin mengatakan Kutim memiliki catatan sejarah gempa bumi dan tsunami, terutama di kawasan Sangkulirang. Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat perlu terus dijaga ketika terjadi guncangan.
BPBD Kutim juga memantau perkembangan situasi di seluruh kecamatan setelah gempa tersebut. Warga diminta segera melaporkan apabila menemukan kerusakan pada bangunan tempat tinggal maupun fasilitas lainnya.
Imbauan itu menjadi bagian dari upaya penanganan setelah gempa di Kutai Timur dirasakan warga. Pemerintah daerah membutuhkan laporan dari masyarakat untuk mengetahui kondisi di lapangan secara lebih cepat.
Laporan warga juga menjadi bagian dari komunikasi kebencanaan. Informasi mengenai kerusakan bangunan atau fasilitas dapat diteruskan kepada pihak terkait agar kondisi di lapangan dapat dipantau.
Dalam situasi setelah guncangan, warga tidak perlu ikut menyebarkan kabar yang sumbernya tidak jelas. Fokus utama adalah memastikan keselamatan, memperhatikan lingkungan sekitar, dan mengikuti arahan dari otoritas yang berwenang.
Menurut Sulastin, masyarakat perlu memastikan informasi yang beredar berasal dari sumber resmi. Pesan yang tidak terverifikasi berisiko membuat warga mengambil tindakan berdasarkan informasi yang keliru.
“Artinya bencana ini bukan hanya BPBD, tapi kita semua yang bertanggung jawab,” tuturnya.
Selain memantau dampak gempa, BPBD Kutim mengingatkan masyarakat mengenai kondisi musim kemarau panjang. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan serta kebakaran permukiman.
Masyarakat diminta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, termasuk membuang puntung rokok sembarangan.
“Jadi kita imbau kepada masyarakat, mari kerja samanya semua. Artinya ini adalah tugas kita bersama,” kata Sulastin.
Setelah gempa di Kutai Timur terasa di sejumlah wilayah, warga diminta tetap memperhatikan kondisi bangunan dan lingkungan sekitar. Jika menemukan kerusakan pada rumah atau fasilitas lainnya, laporan perlu segera disampaikan kepada pihak terkait.
Bagi masyarakat, langkah paling penting setelah guncangan adalah tetap tenang, memastikan informasi berasal dari otoritas resmi, serta membantu melaporkan kondisi di lapangan. (*)















