SULIT dapat Biosolar di Sangatta, ratusan sopir truk yang tergabung dalam Persatuan Truk Material Sangatta (Permata) terancam tidak dapat beroperasi dan kehilangan penghasilan harian.
Kondisi kelangkaan BBM bersubsidi ini memicu keresahan lantaran mematikan roda perekonomian keluarga para pengemudi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur.
Persoalan krusial tersebut mengemuka dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Permata dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutim di ruang hearing DPRD Kutim, Jumat (14/8/2026).
Ketua Permata Mamat mengungkapkan, krisis pasokan ini telah berlangsung lama dan melumpuhkan aktivitas angkutan material, ekspedisi, hingga travel.
Sopir truk kerap kali harus mengantre hingga dua pekan hanya untuk mendapatkan jatah pengisian BBM jenis Biosolar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
"Kasihan anggota kami harus memberi makan keluarganya, sementara setiap hari tidak bisa kerja," ujar Mamat di hadapan para anggota dewan.
Organisasi Permata saat ini menaungi lebih dari 400 anggota aktif. Terhentinya operasional angkutan ini berdampak langsung pada kelancaran distribusi logistik dan proyek pembangunan daerah di Kutim.
Dugaan Penyalahgunaan oleh Oknum
Mamat menilai ketersediaan pasokan kuota Biosolar sebenarnya mencukupi jika dihitung berdasarkan populasi kendaraan yang berhak menerima subsidi.
Ia menduga kuat ada praktik pengetapan atau penyalahgunaan BBM bersubsidi oleh oknum tidak bertanggung jawab yang memicu kelangkaan di lapangan.
"Cuma ada oknum-oknum ini yang menyalahgunakan BBM. Sebenarnya cukup kalau kita hitung dengan kendaraan yang memerlukan dengan kuota yang masuk ke tiap pom," tegasnya.
Dugaan penyelewengan ini membuat jatah Biosolar untuk angkutan umum dan material habis dalam waktu singkat, meninggalkan antrean panjang kendaraan di SPBU Sangatta.
Dalam forum RDP tersebut, Permata menyodorkan sejumlah usulan konkret kepada DPRD Kutim dan pihak terkait guna mengurai kemacetan pasokan.
Permata meminta penambahan kuota Biosolar serta pemberlakuan jadwal pengisian khusus untuk armada truk agar tidak bercampur dengan kendaraan pribadi.
"Atau berikan waktu khusus untuk sopir-sopir truk. Waktu khusus untuk mengisi," tutur Mamat.
Selain skema jam khusus, Mamat mendesak aparat penegak hukum dan pemerintah daerah memperketat pengawasan di seluruh SPBU guna memberantas mafia BBM bersubsidi.
Kedatangan Permata ke gedung dewan ini merupakan kali kedua. Sebelumnya, mereka sempat menggelar aksi demonstrasi untuk menuntut kepastian pasokan bahan bakar demi menjaga stabilitas arus barang dan pembangunan di Kutai Timur. (*)















