EL NINO Kaltim mulai menjadi perhatian pemerintah daerah karena kemarau panjang berpotensi mengganggu pasokan kebutuhan pokok ke sejumlah wilayah terpencil di Benua Etam.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) telah menyiapkan cadangan pangan dan kebutuhan pokok untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang. Persoalan utama kini justru berada pada jalur distribusi menuju kawasan yang sulit dijangkau.
Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud, mengatakan stok logistik pada dasarnya telah disiapkan pemerintah daerah. Namun, pengiriman menuju wilayah pelosok menghadapi kendala geografis.
“Pemerintah sudah mengantisipasi. Bahannya ada, cuma transportasinya yang agak kesulitan,” ujar Hasanuddin.
Hasanuddin menyebut pengiriman sembako dan LPG menjadi salah satu persoalan yang perlu segera diatasi. Kondisi jalan serta jalur sungai di sejumlah wilayah membuat kendaraan pengangkut sulit mencapai daerah tujuan.
Di Kabupaten Kutai Kartanegara, misalnya, terdapat jalur darat yang mengalami kerusakan sehingga tidak dapat dilintasi kendaraan pengangkut. Pada saat yang sama, penyusutan debit air sungai ikut mempersempit pilihan transportasi menuju wilayah terpencil.
“Kita memang terkendala soal pengiriman bahan-bahan seperti sembako dan LPG ke sana karena jalurnya susah. Di daerah Kutai Kartanegara jalan tidak bisa dilewati dan air sungai juga surut,” jelas Hasanuddin.
Kondisi tersebut membuat ketersediaan stok di tingkat pemerintah belum otomatis menyelesaikan persoalan. Bahan pangan tetap harus melewati jalur distribusi yang secara geografis semakin sulit selama kemarau berlangsung.
Pengalaman menghadapi kondisi serupa sebenarnya sudah pernah terjadi pada 2022 dan 2023. Saat itu, pemerintah daerah sempat menyewa helikopter swasta selama tiga bulan untuk mengangkut kebutuhan menuju wilayah hulu yang terisolasi.
Skema tersebut menjadi salah satu opsi ketika jalur darat dan sungai tidak memungkinkan digunakan. Namun, kondisi anggaran tahun ini membuat penggunaan armada udara menghadapi kendala.
Hasanuddin mengatakan penyewaan helikopter belum masuk dalam anggaran karena adanya efisiensi. Meski begitu, koordinasi untuk mencari mekanisme pengiriman yang paling memungkinkan tetap berjalan.
Hasanuddin mengonfirmasi Gubernur Kalimantan Timur sedang mengupayakan agar bahan kebutuhan pokok dapat segera dikirim ke wilayah yang membutuhkan.
“Pak Gubernur sedang mengusahakan agar bahan-bahan pokok ini segera dikirim. Dulu kita sempat sewa helikopter tiga bulan untuk antisipasi seperti ini, tetapi sekarang tidak dianggarkan karena ada efisiensi,” kata Hasanuddin.
Kecepatan distribusi menjadi penting karena kemarau panjang tidak hanya menyangkut ketersediaan bahan pangan, tetapi juga akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar lainnya, termasuk LPG.
Pemerintah daerah kini menghadapi kebutuhan untuk menyeimbangkan kesiapan stok dengan kemampuan menjangkau wilayah yang akses transportasinya terganggu.
Ancaman El Niño Kaltim juga tidak berhenti pada persoalan pasokan logistik. Kemarau panjang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hasanuddin menyebut sejumlah titik api mulai muncul di Kabupaten Berau. Meski sebaran titik api di Kalimantan Timur secara umum masih dalam kondisi yang dapat ditangani, kesiapsiagaan tetap perlu diperkuat.
“El Niño ini kan panjang dan sebenarnya sudah diprediksi jauh-jauh hari. Kebakaran hutan sudah mulai ada di Berau, meski titik api di Kaltim masih bisa ditangani. Ke depan penganggarannya harus lebih siap,” tegas Hasanuddin. (*)















