FITNAH semakin mudah hadir dalam berbagai bentuk: ujian, perselisihan, kekacauan hingga informasi yang dapat mengguncang keimanan. Kondisi tersebut menjadi pengingat bagi setiap Muslim untuk semakin berhati-hati menjaga agama dan tidak mudah terseret arus.
Rasulullah SAW telah mengingatkan umatnya tentang dahsyatnya fitnah. Dari Abu Hurairah RA, beliau bersabda:
بادروا بالأعمال فِتنًا كقطع الليل المظلم، يُصبحُ الرجلُ مؤمنًا، ويُمسي كافرًا، ويُمسي مؤمنًا ويصبح كافرًا، يبيعُ دينَه بعرضٍ من الدنيا
“Bersegeralah melakukan amal-amal saleh sebelum datang berbagai fitnah yang bagaikan potongan malam yang gelap gulita. Seseorang pada pagi hari masih dalam keadaan beriman, tetapi pada sore harinya menjadi kafir. Pada sore hari ia masih beriman, tetapi pada pagi harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan dunia.”
Hadis tersebut diriwayatkan Muslim dan menggambarkan betapa cepatnya fitnah memengaruhi manusia. Karena itu, seorang Muslim tidak sepatutnya merasa aman dari ujian yang dapat mengusik hati dan keimanannya.
Lantas, apa yang perlu dijaga ketika fitnah merebak?
1. Berlindung kepada Allah dari Berbagai Fitnah
Langkah pertama adalah senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT dari fitnah, baik yang tampak maupun tersembunyi.
Nabi SAW bersabda:
تعوذوا بالله من الفتن، ما ظهر منها وما بطن
“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari berbagai fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.”
Doa menjadi salah satu benteng bagi seorang mukmin. Manusia tidak selalu mampu mengetahui dari mana ujian datang dan bagaimana pengaruhnya terhadap hati serta keimanannya.
Karena itu, memohon perlindungan kepada Allah menjadi bagian penting dalam menjaga diri ketika keadaan semakin penuh dengan ujian.
2. Memperkuat Tauhid dan Keyakinan kepada Takdir
Ketika menghadapi berbagai ujian, seorang Muslim perlu menguatkan tauhid dan keyakinannya kepada takdir Allah SWT.
Keyakinan tersebut bukan alasan untuk berhenti berikhtiar. Seorang Muslim tetap harus menjaga diri, menjauhi keburukan, mengambil langkah yang benar, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Tauhid yang kokoh membantu seseorang agar tidak kehilangan arah ketika berhadapan dengan keadaan yang penuh ketidakpastian.
3. Berpegang kepada Alquran dan Sunnah
Fitnah dapat semakin besar ketika manusia terpecah, saling bermusuhan, dan terjebak fanatisme kelompok. Karena itu, persatuan dan sikap saling menjaga menjadi bagian penting dalam menghadapi keadaan tersebut.
Allah SWT berfirman dalam QS Ali 'Imran ayat 103:
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءًۭ فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًۭا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍۢ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَـٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ١٠٣
"Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk." (QS Ali ‘Imran: 103).
Ayat tersebut mengajarkan kaum Muslimin untuk berpegang teguh kepada petunjuk Allah dan meninggalkan pertikaian yang hanya memperlebar perpecahan.
Ketika suasana penuh fitnah, umat justru membutuhkan persatuan, ketenangan, serta sikap saling mengingatkan dalam kebenaran.
4. Memperbanyak Ibadah Saat Kekacauan Merebak
Ketika keadaan di luar semakin kacau, seorang Muslim tidak boleh membiarkan hatinya ikut hanyut.
Justru ketika fitnah semakin ramai, hubungan dengan Allah SWT perlu diperkuat melalui shalat, zikir, membaca Alquran, doa, dan berbagai amal saleh.
Rasulullah SAW bersabda:
الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ
“Beribadah pada masa kekacauan seperti berhijrah kepadaku.”
Dalam bahan ini, hadis tersebut disebut diriwayatkan oleh Tirmidzi.
Ibadah menjadi tempat seorang mukmin kembali menenangkan hati sekaligus menjaga keimanannya. Jangan sampai perhatian terhadap berbagai persoalan membuat kewajiban kepada Allah justru terabaikan.
5. Jangan Mudah Percaya Kabar dan Propaganda
Informasi yang tidak jelas kebenarannya dapat menjadi salah satu pintu masuk fitnah. Kabar yang belum terverifikasi bisa memicu kemarahan, kebencian, bahkan permusuhan.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Hujurat ayat 6:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍۢ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَـٰلَةٍۢ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَـٰدِمِينَ ٦
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." (QS Al-Hujurat: 6).
Pesan tersebut menjadi dasar penting agar seorang Muslim membiasakan diri melakukan tabayun dan tatsabbut, yakni memeriksa serta memastikan kebenaran berita sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Jangan mudah terbawa propaganda, slogan, atau narasi yang sengaja membangkitkan emosi. Sesuatu yang ramai dibicarakan belum tentu benar, begitu pula informasi yang sesuai dengan pandangan pribadi tidak otomatis dapat diterima tanpa pemeriksaan.
6. Menjaga Lisan dan Menjauhi Pertikaian
Ketika fitnah berubah menjadi pertikaian, menjaga lisan menjadi semakin penting. Dalam sebuah hadis dari Abdullah bin Amr RA, Rasulullah SAW memberikan pesan ketika manusia mulai merusak perjanjian dan amanah.
Dari Abdullah bin Amr RA, Rasulullah SAW bersabda ketika menjelaskan tentang fitnah:
إذا رأيتم الناس قد مرجَتْ عهودُهم، وخفَّتْ أماناتُهم، وكانوا هكذا
“Apabila kalian melihat manusia telah merusak perjanjian mereka dan amanah-amanah mereka semakin berkurang...”
Kemudian beliau menyilangkan jari-jemarinya. Abdullah bin Amr bertanya, “Apa yang harus aku lakukan ketika itu?” Beliau menjawab:
الزمْ بيتك، واملِك عليك لسانك، وخُذْ بما تعرف، ودعْ ما تُنكِر، وعليك بأمر خاصَّةِ نفسِك، ودعْ عنك أمرَ العامة
“Tinggallah di rumahmu, kuasailah lisanmu, ambillah apa yang kamu ketahui kebenarannya dan tinggalkan apa yang kamu ingkari. Uruslah perkara yang menjadi tanggung jawabmu sendiri dan tinggalkan urusan masyarakat umum.”
Pesan tersebut menjadi penting ketika sebuah konflik berpotensi berkembang menjadi pertikaian dan pertumpahan darah.
Seorang Muslim tidak boleh sembarangan ikut campur dalam konflik yang tidak jelas, terlebih menjadi bagian dari pertikaian yang menyebabkan darah tertumpah tanpa hak.
Ia juga perlu menerima kebenaran dari siapa pun yang menyampaikannya. Fanatisme kepada individu atau kelompok tidak boleh membuat seseorang menolak kebenaran atau membenarkan kemungkaran.
Waktu juga sebaiknya diisi dengan perkara yang bermanfaat: beribadah, mencari rezeki halal, memperbaiki keluarga, dan melakukan amal yang mendatangkan kebaikan.
Jangan sampai seseorang terlalu larut dalam isu yang sedang ramai hingga melupakan kewajiban terhadap dirinya sendiri dan keluarganya.
7. Jangan Membela Kezaliman, Upayakan Perdamaian
Islam tidak mengajarkan seorang Muslim membela saudaranya secara membabi buta.
Persaudaraan justru menuntut seseorang mencegah saudaranya dari perbuatan zalim. Jika seorang saudara melakukan kezaliman, pertolongan diberikan dengan mencegahnya dari tindakan tersebut. Jika ia dizalimi, ia dibantu sesuai kemampuan.
Ketika perselisihan berkembang menjadi pertikaian, jalan yang ditempuh adalah mendamaikan.
Allah SWT berfirman dalam QS Al-Hujurat ayat 9–10:
وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱقْتَتَلُوا۟ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنۢ بَغَتْ إِحْدَىٰهُمَا عَلَى ٱلْأُخْرَىٰ فَقَـٰتِلُوا۟ ٱلَّتِى تَبْغِى حَتَّىٰ تَفِىٓءَ إِلَىٰٓ أَمْرِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن فَآءَتْ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا بِٱلْعَدْلِ وَأَقْسِطُوٓا۟ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ ٩ إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ١٠
"Dan apabila ada dua golongan orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.
Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS Al-Hujurat: 9–10)
Persaudaraan iman menjadi dasar dalam menghadapi konflik. Ketika perselisihan terjadi, upaya yang ditempuh bukan memperbesar permusuhan, melainkan mendamaikan, menegakkan keadilan, dan menghentikan kezaliman.
8. Jangan Menjadi Bagian dari Fitnah
Pada akhirnya, menghadapi zaman penuh fitnah bukan berarti seorang Muslim harus mengasingkan diri dari kehidupan.
Pesan utamanya adalah menjaga diri agar tidak menjadi bagian dari keburukan. Seorang Muslim perlu berhati-hati terhadap apa yang didengar, dipercaya, dikatakan, dan dilakukan.
Ia tidak mudah mengikuti arus, tidak fanatik kepada individu atau kelompok, serta tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling bermusuhan.
Ketika keadaan semakin gaduh, seorang Muslim justru perlu semakin dekat kepada Allah SWT. Tauhid diperkuat, ibadah dijaga, lisan dipelihara, berita diperiksa, pertikaian dijauhi, dan persaudaraan sesama Muslim dirawat.
Pada akhirnya, keselamatan di tengah fitnah bukan hanya soal mengetahui siapa yang salah dan siapa yang benar. Yang tak kalah penting adalah kemampuan untuk tetap berpegang pada kebenaran tanpa terseret hawa nafsu, fanatisme, kebencian, dan kekacauan. (*)















