BENDERA raksasa Bontang Kuala membentang di kawasan pelataran wisata Bontang Kuala, Minggu (16/8/2026), sehari menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Ribuan warga dari berbagai profesi bergotong royong mengarak dan membentangkan dua Merah Putih berukuran besar sebagai simbol persatuan sekaligus promosi wisata pesisir Kota Bontang.
Bendera raksasa Bontang Kuala menjadi bagian dari rangkaian peringatan kemerdekaan yang tahun ini mengambil lokasi berbeda dari pelaksanaan sebelumnya. Setelah Pulau Beras Basah menjadi lokasi pembentangan tahun lalu, Bontang Kuala kini dipilih untuk memperkenalkan salah satu kawasan wisata dan identitas pesisir Kota Taman.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Linmas Kota Bontang, Deddy, mengatakan terdapat dua bendera Merah Putih yang digunakan dalam kegiatan tersebut.
Bendera pertama memiliki panjang 600 meter. Bendera itu diarak dari pintu masuk hingga pelataran Bontang Kuala. Bendera kedua berukuran 21 x 86 meter dan dibentangkan di kawasan pelataran wisata.
"Tahun lalu pembentangan bendera sepanjang 600 meter dilakukan di Pulau Beras Basah. Tahun ini giliran Bontang Kuala yang kita promosikan," ujar Deddy.
Sekira 1.200 orang terlibat dalam kegiatan tersebut. Sebanyak 900 peserta mengarak bendera sepanjang 600 meter, sedangkan sekitar 300 orang lainnya bertugas membentangkan bendera raksasa.
Peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai dari aparatur pemerintah, pelajar, organisasi kemasyarakatan hingga komunitas.
"Keterlibatan banyak pihak menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih hidup di tengah masyarakat Bontang," kata Deddy.
Pemilihan lokasi menjadi bagian penting dari kegiatan tahun ini. Jika tahun lalu Pulau Beras Basah mendapat sorotan lewat pembentangan Merah Putih, kini Bontang Kuala mendapat kesempatan serupa.
Kawasan permukiman di atas laut tersebut tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata. Bontang Kuala juga menjadi bagian dari sejarah dan identitas masyarakat pesisir Kota Bontang.
Aktivitas masyarakat di kawasan tersebut berkaitan erat dengan tradisi, perikanan, dan roda ekonomi berbasis pariwisata.
Bentangan Merah Putih yang melintasi jembatan kayu dan pelataran kawasan wisata itu pun menghadirkan pemandangan yang berbeda. Semangat kemerdekaan berpadu dengan wajah pesisir Bontang.
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni mengatakan pembentangan bendera raksasa kini menjadi tradisi baru dalam peringatan Hari Kemerdekaan di Kota Bontang.
Menurut Neni, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni. Pembentangan bendera menjadi cara untuk mengenang jasa para pahlawan sekaligus mengajak masyarakat meneruskan perjuangan melalui profesi masing-masing.
"Kegiatan ini bukan sekadar membentangkan bendera. Ini adalah bentuk penghormatan kepada jasa para pahlawan sekaligus mengajak masyarakat melanjutkan perjuangan sesuai profesinya masing-masing," kata Neni.
Bendera yang digunakan juga bukan hasil pengadaan baru. Menurut Neni, bendera tersebut merupakan hasil karya masyarakat yang dijahit bersama pada tahun lalu di Pendopo Wali Kota.

Neni mengaku ikut menjahit bendera tersebut. Kini, karya yang dibuat secara gotong royong itu kembali digunakan untuk memperingati kemerdekaan.
Ada fakta lain yang menjadi sorotan dalam kegiatan tersebut. Neni menyebut seluruh rangkaian pembentangan bendera tidak menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Kota Bontang.
"Seluruh kegiatan hari ini tidak menggunakan satu rupiah pun dari APBD Kota Bontang. Bahkan bendera-bendera yang kita kibarkan merupakan hasil swadaya masyarakat," ujarnya.
Semangat swadaya tersebut memperlihatkan bahwa keterbatasan anggaran tidak menghalangi masyarakat menghadirkan peringatan kemerdekaan dalam skala besar.
Sekitar 1.200 warga dari latar belakang berbeda dapat terlibat dalam satu kegiatan yang sama. Pemerintah, pelajar, organisasi, dan komunitas berada dalam satu barisan untuk mengarak serta membentangkan Merah Putih.
Bagi Neni, makna kemerdekaan tidak berhenti pada seremoni tahunan. Nilai persatuan dan gotong royong menjadi pesan yang harus terus diwariskan.
"Pemerintah tidak mungkin membangun Kota Bontang sendirian. Kita tidak mungkin membentangkan bendera sebesar ini tanpa kerja sama. Hari ini kita membuktikan bahwa perbedaan profesi, latar belakang, dan usia bukan penghalang untuk bersatu demi Indonesia," katanya.
Neni juga berharap tema HUT ke-81 RI, "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur", tidak berhenti sebagai slogan.
Menurut dia, kedaulatan berarti Indonesia mampu berdiri di atas kekuatan sendiri. Keadilan berarti pembangunan dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat, sedangkan kemakmuran diwujudkan melalui peningkatan kesejahteraan, pendidikan berkualitas, serta pertumbuhan ekonomi. (*)















